Archive for the 'Himapasti' Category

Slepi

(Episode 1)

Setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan, akhirnya waktu itu tiba. Liburan panjang plus, karena memang liburan cuman 2 hari ditambah hari aktif yang kecepit plus hari minggu, mulai Rabu (19/03/2008) s/d Minggu (23/03/2008) . Bertemu dengan saudara lama sepenanggungan di organisasi Pecinta Alam dan melakukan perjalanan bersama menjadi salah satu bentuk untuk melepaskan penat di antara sibuknya kehidupan kita dan kota.

Perjalanan kali ini dalam rangka DIKLATSAR HIMAPASTI XVI, ini adalah salah satu kegiatan syarat untuk menjadi anggota HIMAPASTI. Layaknya sebuah intuisi, seseorang harus mengikuti kegiatan untuk masuk ke dalam intusisi tersebut. Dimana tahun ini kami mendapatkan peserta berjumlah 9 orang dimana 8 orang adalah cowok dan 1 cewek. Ini adalah suatu hal yang istimewa dikarenakan jumlah peserta yang melebih target. Mengingat saat ini jumlah peminat kegiatan ini mulai berkurang.

Kami berdelapan yakni Mico, ungkel, Kempol, Kowoq, Mbreh, Klowor, Ptuq dan saya sendiri. Berangkat dari Terminal Bungurasih pada pukul 23.10 WIB dimana molor dari jadwal semula pukul 21.00 WIB. Dari Surabaya menuju Kota Pandaan, dimana karena saat itu menjelang liburan selama beberapa hari, sehingga tempat duduk di dalam bis hampir terisi semuanya. Namun padatnya penumpang di dalam bus tidak menyurutkan hati kami untuk tetap bercanda ria di tempat duduk bus paling belakang. Suasana melepas kerinduan dengan saudara lama pun terobati saat itu.

Kami pun tiba di Pandaan dan melanjutkan perjalanan dengan mencarter sebuah L300, dikarenakan saat itu sudah dini hari sehingga tidak ada angkutan menuju lokasi yang kami tuju. Dingin pun mulai kami rasakan sejak dari Prigen menuju Trawas. Kami pun berhenti di Kompleks Villa (lupa namanya) di daerah Trawas. Guna melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Slepi

Slepi adalah pos I dalam rangkaian perjalanan DIKLATSAR HIMAPASTI XVI dimana dalam kegiatan ini terdapat 4 Pos. Berjalan kaki sembari merasakan dinginnya hawa pegunungan di Trawas dan diringi gemericik suara aliran sungai di sepanjang perjalanan. Sesaat kemudian kami telah sampai di Pos Slepi dan bertemu dengan rekan panitia yang berjumlah 5 Orang. Mereka ini telah berangkat terlebih dahulu sorenya untuk mengawal peserta yang berjumlah 9 orang. Kami pun berbincang sejenak dengan mereka mengenai acara ini.

Ternyata saat itu jam sudah menunjukkan pukul 01.37 WIB, kami pun mendirikan tenda. Sekejap berbagi tugas, yang wanita langsung mengambil perlatan masak (nesting) dan kompor (Trangia) untuk membuat minuman hangat sedangkan yang laki-laki mendirikan tenda untuk berisitirahat. Beberapa saat kemudian tenda pun telah berdiri di Slepi. Kami pun berisitirahat sambil menikmati terangnya bulan dan bintang ditemani secangkir kopi dan renyahnya Gabin. Serta Canda Tawa dengan saudara lama. Menjadi sesuatu yang tidak akan dilupakan. Dan beberapa saat kemudian kami pun terlelap karena harus melanjutkan perjalanan esok menuju Butak.

it’s polenk

Polenk itu adalah nama panggilan yang populer diantara banyak nama panggilan lainnya. Sejak kecil sampai sekarang banyak nama panggilan yang telah saya sandang. Mulai dari Nama panggilan Calak, Gentong, Lempung, Gendut, Sampai yang terakhir adalah nama Polenk. Polenk adalah sebuah nama, dimana setiap orang-orang baru yang berkenalan dengan saya selalu menanyakan makna dari nama tersebut. “Polenk itu artinya apa ?”, “Koq polenk ?” Sehingga rasa penasaran setiap orang baru untuk nama ini memberikan daya tarik tersendiri bagi saya sang pemilik nama.

“Polenk itu artinya apa seh ?” mungkin itu juga akan menjadi sebuah pertanyaan yang terbesit ketika mengenal saya pertama kali. Nama ini saya dapatkan pertama kali ketika saya mengikuti kegiatan DIKLATSAR OPA di kampus saya STIKOM Surabaya, dimana kegiatan ini merupakan salah satu syarat untuk menjadi anggota Pecinta Alam tersebut. Kegiatan ini dilakukan selama 7 Hari penuh, Dimana dibagi 2 Kegiatan yakni Diklat Ruang dan Diklat Lapangan. Saat kegiatan ini saya dikenalkan dunia hutan belantara dan kerasnya medan di Gunung Welirang. Namun saya didampingi oleh senior-senior yang berpengalaman, Diantaranya adalah bang Pendi’, beliau adalah salah satu senior saya kala itu yang selalu memberikan wejangan-wejangan fisik ataupun moral kepada saya. Dan dari beliaulah nama Polenk itu disandangkan kepada saya. Prosesi pemberian nama tersebut tidaklah formal justru dibalut dengan suasana keceriaan, pemberian nama tersebut diharapkan untuk memudahkan pergaulan nantinya baik di lingkungan organisasi ataupun di luar. Istilahnya gak afdol kalo kita sebagai manusia gak punya nick name. Hormat saya untuk seluruh kolega senior di OPA HIMAPASTI.

It’s Polenk, sejak saat itulah saya dipanggil dengan nama itu. Dan saat itu pula saya pun juga tidak tahu alasannya kenapa diberi nama tersebut dan artinya apa. Namun sesaat kemudian Bang Pendi’ menjelaskan artinya nama tersebut namun tidak diberikan alasanya pemberian nama tersebut. Beliau pun menjelaskan bahwa nama Poleng adalah nama kepanjangan dari PO dan LENG. Dimana LENG diambil dari nama binatang celeng, dan PO diambil dari nama alat kelamin wanita yang dijawakan PO*** jadi kepanjangannya adalah PO*** CELENG. Serem Banget kan arti namanya, padahal orangnya gak seserem itu, anyway kembali seperti kata si penyair jaman bahola “Apalah Arti Sebuah Nama”. Seiring dengan berjalannya waktu, penulisan nama Poleng berubah menjadi Polenk.

Selamat Datang Polenk…


Kemarin