Nyanyi Sunyi Seorang Blogger

28 Jan 2016

Ngeblog bagi beberapa orang laksana ibadah, melakukan dengan segenap jiwa karena merasa dirinya terpanggil untuk menulis. Menulis apa yang harus ditulis bukan karena layak atau tidaknya dibaca melalui daring, sebuah bentuk keberanian akan idealisme yang akhir-akhir ini saya rindukan. Kondisi yang berbeda dengan beberapa tahun silam ketika begitu mudahnya menemukan tulisan tanpa ketakutan untuk menyuarakan yang terjadi di sekitar. Menulis dengan kejujuran, mampu menentukan sikap untuk berpihak tanpa keraguan sedikitpun menyuarakan kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan. Perlahan dengan pasti mengajak siapapun untuk masuk ke dalam tulisan, meresapi benar tiap bait kata untuk memahami pemikiran si empunya blog. Inilah personalisasi, interaksi yang dinamis dalam menyampaikan pesan pada yang membaca. Untuk mengetahui apa yang dituliskannya tersampaikan dengan baik oleh karenanya dibutuhkan umpan balik dari pembaca, entah itu saling bertukar pikiran atau bahkan memberikan bantahan yang rentan berujung blogwar.
 
Yah beberapa tahun silam sebelum mengenal perihal twitwar  dan dunianya, lalu lintas media sosial sudah disuguhi blogwar yang memancing diskusi pembaca. Menulis sanggahan maupun bantahan atas tulisan pada blog dengan segala bentuk kritik dan pemikiran atas blog lain hingga menyisakan ruang diskusi terbuka via daring. Memberikan sanggahan dengan gaya bahasa satir hingga bantahan dibalut humor sarkas yang dilengkapi dengan data maupun informasi pendukung sebagai pertanggungjawaban kepada yang akan membaca nantinya. Bahkan beberapa group mailing list yang saat itu menjadi sarana berbagi informasi internal kerap menjadi saksi adu tulisan layaknya juri yang harus bersikap obyektif, tidak jarang dari situ juga akan melahirkan beberapa tulisan baru. Memberikan sudut pandang namun tetap dalam tema, begitulah tulisan-tulisan itu seharusnya bekerja tanpa henti. Kolom komentar tidak juga kalah menarik untuk disimak, terkadang dari situ banyak ditemukan beberapa data bahkan informasi yang saling menguatkan atau justru sebaliknya meskipun dibutuhkan verifikasi terlebih dahulu. Satu hal yang bisa dipelajari dari blogwar dalam sebuah konsep adalah pemikiran sedemikian hebatnya juga dibutuhkan kemampuan untuk menyampaikan dengan baik, berbahagialah kalian memiliki kemampuan keduanya. Tidak bisa dipungkiri bila lemah di salah satunya akan memberikan preseden buruk sebelum memulai adu tulisan. Inilah era yang kini dirindukan layaknya saya merindukan sebuah kritik sastra yang bermutu akhir-akhir ini.
 
Saya mencoba menarik benang merah antara sastra dan penulis dalam permasalahan ini, kapan seorang penulis menjadi sastrawan? pertanyaan yang masih relevan dengan penulis dan blogger masa kini. Dalam bukunya The Craft of Writing, William Sloane, seorang penulis, editor kawakan dan dosen creative writing dari Amerika pernah menuliskan bahwa yang membuat sebuah buku menjadi karya sastra adalah pembacanya. Sama halnya ketika blog dilihat sebagai media berkarya tidak lantas membuatnya menjadi seorang blogger, ada tanggung jawab penting dibaliknya seperti halnya tulisan itu akan bernilai penting bila bisa dinikmati, dibaca hingga didiskusikan dari waktu ke waktu bahkan melahirkan sudut pandang lain dari tulisan tersebut. Karena saat membaca itulah penulis dan pembaca sudah terlibat dalam persetubuhan, percintaan dari pemikiran dua arah yang bila berjodoh akan melahirkan pemikiran baru.
 
Tidak salah bila menggaris bawahi hubungan pembaca dan penulis merupakan nilai penting yang harus dijaga benar, bagaimana menulis aman begitu juga membaca dengan nyaman. Aman disini adalah konotasi dari sebisa mungkin untuk tidak mengundang permasalahan dari yang ditulisnya dengan menyuguhkan tema yang enak dibaca dengan nyaman, bacaan ringan bila diistilahkan. Bagi yang memiliki kegemaran membaca blog akan lebih memilih tulisan yang santai nun informatif dibanding pemikiran maupun pernyataan sikap dari si empunya blog. Bahkan masih ada blogger-blogger yang sebenarnya sudah memiliki sesuatu untuk ditulis namun saat membuka dashboard akan cenderung menghabiskan waktu untuk memikirkan tulisan ini ada yang membaca atau tidak, hingga beberapa menit kemudian layar monitor nampak masih kelihatan bersih dan kosong melompong dari deretan huruf. Bila dalam kondisi seperti itu berlanjut maka sebagian akan lebih memilih mematikan komputer kemudian tidur atau melakukan aktifitas lainnya yang jauh dari pengerjaan sebuah tulisan. Saya tidak menyalahkan karena mungkin dirinya adalah bagian dari yang membutuhkan viewers lantas mendewakan layaknya rating program televisi. Ada penekanan kesempurnaan dari apa yang ditulis nantinya sesuai dengan target viewers yang telah ditentukan sebelumnya, tentunya ini berhubungan dengan pundi-pundi bagi si empunya blog. Oleh karenanya pikirkan ulang tujuan menulis blog, memilih tidak peduli siapa itu viewers seperti yang dijelaskan pada awal tulisan atau mencari cara untuk menambah pundi-pundi untuk mempertahankan kepulan asap dapur.
 
Menjadi seorang blogger tidaklah mudah seperti yang diceritakan pada postingan sebelumnya, konsisten merupakan musuh dari hal yang bersifat dinamis berupa ritme. Momok bagi setiap blogger dari berbagai belahan bumi manapun kecuali memang menulis adalah bagian dari tanggung jawab yang bernama deadline. Jujur saja konsisten menulis kerap menjadi resolusi saya yang menahun, pada awalnya seminggu dengan satu tulisan kemudian berakhir dengan tidak lebih dari sepuluh tulisan dalam satu tahun bila dijumlahkan, bukan suatu hal yang patut dibanggakan. Akhirnya sempat berujar dalam diri sendiri bahwa menulislah kalo memang ingin menulis, nikmatilah deretan kata itu dan bergembiralah dengan apapun yang ditulis tanpa mempedulikan siapa yang akan membacanya. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian, seperti halnya orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dirinya tidak menulis maka akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang ternyata telah membuat saya memiliki keinginan menulis sebagai panggilan jiwa dan tidak ingin dilupakan oleh sejarah begitu saja.


TAGS blogger menulis


-

Author

Follow Me