Mendadak Blogger

12 Jan 2016

Beberapa orang akan tertarik bila menyimak media sosial yang dimiliki teman-teman blogger, entah itu sekedar update status maupun foto galeri tatkala menghadiri sebuah acara. Gelaran acara yang diadakan oleh brand hingga instansi yang memang mengharapkan teman-teman blogger untuk hadir. Tidak dipungkiri hal tersebut akan menimbulkan ketertarikan bagi mereka yang belum paham betul mengenai dunia blogger sesungguhnya. Foto yang terkesan akrab bersama brand ambassador yang biasanya artis kenamaan hingga berpergian ke suatu tempat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Kenikmatan yang dimiliki segelintir orang yang berasal dari kegemaran menulis blog hingga disebutnya blogger.

Mendadak blogger, begitulah banyak orang yang ingin memulai perjalanannya menjadi seorang blogger. Berdasar dari apa yang dilihatnya banyak yang mulai bertanya-tanya bagaimana cara menjadi seorang blogger dan darimana harus memulainya. Sekilas dunia blogger banyak menjanjikan hal-hal yang menarik meskipun beberapa diantaranya akan menjawab tidak semenarik yang terlihat, sawang sinawang bila diartikan dalam bahasa jawa. Blogger banyai diidentikkan seorang penulis dan blog adalah sebuah media untuk menulis apa yang terdapat dalam pikirannya, entah itu opini maupun hal-hal yang menarik menurutnya. Dengan memberlakukan cara pandang dua sisi hal yang menarik bagi penulis belum tentu berbanding dengan pembaca, ada yang memang menulis hanya untuk kepuasan pribadi tanpa peduli tulisan itu dibaca banyak orang ataupun dikomentari hingga puluhan oleh fakir komentar, yang penting nulis dan apa yang terdapat dalam pikiran dituangkannya melalui daring. Inilah salah satu bentuk kebebasan yang masih menyisakan idealisme maupun tanggung jawab moral terhadap apa yang ditulis di blog.

Poin terakhir ini menjadi bentuk ketidakpuasan pribadi setelah membaca beberapa blog terutama tulisan yang bersifat review produk, review yang saya baca mencitrakan kesempurnaan nyaris tanpa cela berbalut informasi produk. Padahal tulisan tersebut adalah bentuk personalisasi antara penulis dengan produk yang ditulisnya, disinilah kejujuran dihadirkan oleh empunya blog menjadi pertaruhan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada pembacanya. Tentunya tidak akan berujung masalah bila produk itu mampu berbicara dengan sendirinya melalui tulisan. Namun akan menjadi bahasan yang menarik bila produk itu ternyata tidak seperti yang digambarkan oleh si penulis, saya pernah melihat pada beberapa kolom komentar yang membahas produk tersebut justru menjadi delik aduan yang tidak berujung. Bukankah interaksi pada blog yang menarik adalah bentuk perbincangan di kolom komentar, oleh karena itu bila menemukan tulisan memicu pro dan kontra selalu menarik untuk dibaca adalah kolom komentarnya. Kembali soal delik aduan pada kolom komentar, entah kepada siapa kesalahan ini harus dilimpahkan, produk itu sendiri yang dicitrakan bagus penulisnya atau si empunya produk yang memang memiliki cela di mata konsumennya. Saya jadi teringat Pramoedya Ananta Toer yang pernah mengatakan bahwa kita harus adil sejak dalam pikiran dengan harapan mampu bersikap adil pula dalam tulisan, bila produk itu memiliki cela kenapa tidak dituliskan dengan gaya bahasa yang dirasa adil meskipun dibutuhkan sikap arif dari si empunya produk dalam menyikapi hal tersebut. Sekali lagi menjadi seorang blogger itu tidaklah mudah teman-teman.

Saat menapakkan jejak pertama membuka dashboard blog banyak yang terjebak bahkan menghabiskan waktu yang lama hanya untuk memoles tampilan sebagus mungkin hingga layak untuk diberikan penghargaan pemenang disain blog, tapi ingat disini seorang blogger dilihat bukan dari bagus tidaknya tampilan blog tapi apa yang ditulis. Oleh karenanya jangan buang waktu hanya untuk mengutak atik tema blog, plugin maupun widget hingga melupakan tugasnya untuk menulis, menulis, menulis dan konsisten. Memulai menulis dengan sendirinya akan terpikirkan tentang konten, apa konten yang harus disiapkan, apa yang harus ditulis dan bagaimana diferensiasi dari blog tersebut. Menulislah apa yang hadir di sekitar dan seringlah baca tulisan-tulisan sebelumnya untuk mengevaluasi apa yang perlu dibenahi karena seiring berjalannya waktu diferensiasi blog akan tercipta dengan sendirinya. Jangan sampai nantinya timbul kesan blogger dadakan, boro-boro membahas tentang konten karena terakhir menulis pun lupa namun tidak malu menunjukkan dirinya seorang blogger.

Setelah memiliki blog langkah selanjutnya adalah pertanyaan apakah harus bergabung dengan komunitas blog? jawabannya bisa ya bisa tidak. Saya memiliki beberapa teman yang memang memposisikan dirinya sebagai blogger independen, namun tidak bisa dipungkiri bila psikologi tentang bergerak bersama itu lebih terlihat daripada bergerak seorang diri. Disini peran komunitas itu dirasa penting, layaknya sebuah keluarga maka dalam komunitas tersebut akan saling membantu dengan sabarnya hingga memahami bagaimana dunia blogger itu berputar. Komunitas itu menjadi ajang untuk diskusi seputar blog hingga hal menarik lainnya untuk dijadikan bahan tulisan. Untuk pengguna blogdetik di Surabaya bisa memanfaatkan komunitas dblogger Suroboyo sebagai sarana diskusi hingga membangun jejaring untuk mengenalkan blognya. Komunitas pun kerap menerima undangan untuk menghadiri acara dari brand hingga instansi, karena banyak brand telah mengetahui peran besar media sosial termasuk blog. Inilah keuntungan yang layak disematkan pada blogger seperti yang dijelaskan pada awal tulisan. 

Namun menghadiri sebuah acara pasti terbesit pikiran, apakah acara ini harus ditulis? Tidak harus. Oleh karenanya ditulis maupun tidak adalah veto dari penulis itu sendiri selama memang tidak ada kesepakatan sebelumnya. Tulislah bila memang menarik untuk ditulis karena blog adalah personalisasi empunya blog dengan pembacanya. Jangan takut bila hal tersebut akan mencederai jejaring yang telah dibangun nantinya, seperti halnya jangan takut menjadi blogger yang masih memiliki kredibilitas. Jadi siapa bilang menjadi blogger itu mudah?


TAGS blogger


-

Author

Follow Me